Memakmurkan Masjid Muhammadiyah

Memakmurkan Masjid Muhammadiyah

Oleh: As’ad Bukhari, S.Sos., M.A. (Alumni Pendidikan Intensif Muballigh Muda Berkemajuan)

PWMJATENG.COM – Masjid adalah baitullah, tempat bersujud di rumah Allah untuk melaksanakan ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah. Masjid menjadi pusat berbagai kegiatan, mulai dari ibadah, ekonomi, politik, budaya, dakwah, hingga pendidikan dan pelatihan. Masjid merupakan tempat paling sentral dalam menyusun kebijakan, agenda, program, dan kegiatan keumatan. Setiap agenda berbasis masjid akan lebih strategis dan terukur. Peran penting masjid sebagai pusat peradaban terlihat dalam Sirah Nabawi dan sejarah peradaban Islam terdahulu, menjadikan masjid sebagai kekuatan potensial dalam dakwah Islamiyah.

Kiai Ahmad Dahlan memiliki kisah perjuangan dalam membangun masjid, meskipun mengalami penolakan dan persekusi, termasuk pembongkaran suraunya. Penolakan tersebut tidak hanya datang dari kelompok tak dikenal, tetapi juga dari tokoh ulama elite di lingkungannya. Kiyai Ahmad Dahlan dianggap membawa pemahaman agama yang aneh dan dinilai kafir, Kristen, atau berbau Hindia Belanda. Namun, beliau tetap konsisten dengan dakwah anti takhayul, bid’ah, dan khurafat. Kiyai Ahmad Dahlan menggabungkan nuansa Jawa, Timur Tengah, dan Eropa dalam dakwah Islamnya.

Situasi saat ini berbeda, banyak ulama yang dulu menentang ajaran Muhammadiyah kini mengadopsinya tanpa mengakui sejarahnya. Kiai Ahmad Dahlan tidak melakukan dakwah dengan cara frontal, tetapi dengan kegiatan yang mencerdaskan seperti pengajian, olahraga kepanduan, dan seni musik. Membangun masjid atau surau sebagai pusat kegiatan dakwah Muhammadiyah merupakan tantangan tersendiri karena sering mengalami penolakan dan perlawanan. Namun, kesabaran Kiai Ahmad Dahlan membuahkan hasil, menjadikan Muhammadiyah sebagai penerang di sekitar Keraton dan Kauman.

Memakmurkan masjid Muhammadiyah adalah bagian dari jihadul ilmi dan jihadul khidmi untuk mencerahkan kehidupan semesta. Muhammadiyah banyak mempelopori peradaban Islam di Indonesia melalui dakwah tajdid, seperti meluruskan arah kiblat, falak hisab, salat Idulfitri di lapangan, mendirikan lembaga urusan haji, dan membangun masjid dengan ornamen budaya lokal. Langkah-langkah ini awalnya dianggap aneh, tetapi kemudian diterima dan dinikmati.

Baca juga, Muhammadiyah Pelopor Salat Id di Tanah Lapang: Sejarah dan Perkembangannya

Penting untuk memakmurkan masjid Muhammadiyah sebagai bentuk cinta dan peduli, serta tidak mudah merasa kecewa jika masjid diambil alih orang lain. Sering kali, masjid Muhammadiyah tidak sesuai dengan harapan karena kurangnya upaya untuk memakmurkannya. Pengelolaan masjid Muhammadiyah harus dilakukan dengan baik, agar tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik atau ideologi lain. Masjid Muhammadiyah perlu manajemen yang baik sesuai dengan ideologi Muhammadiyah sebagai panduan utama.

Sebagai warga Muhammadiyah, kita perlu mengupayakan pembangunan dan pemakmuran masjid Muhammadiyah sesuai kemampuan dan lingkungan masing-masing. Berdonasi, berwakaf, bersedekah, dan berinfak untuk membangun masjid Muhammadiyah adalah amal kebaikan yang menciptakan lingkungan harmonis, humanis, dan agamis. Memakmurkan masjid Muhammadiyah dapat dilakukan dengan berbagai program kreatif dan inovatif, seperti hadiah umrah, hadiah barang, apresiasi, kenyamanan, atau reward lainnya.

Memakmurkan masjid Muhammadiyah adalah tugas bersama yang harus disyukuri. Masih banyak warga Muhammadiyah yang belum memiliki masjid atau musala, bahkan menghadapi kesulitan pendanaan, lahan tanah wakaf, biaya pembangunan, dan perizinan. Kembali ke masjid Muhammadiyah untuk membangun peradaban Islam berkemajuan secara berjamaah demi mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan umat bangsa.

Editor : M Taufiq Ulinuha

The post Memakmurkan Masjid Muhammadiyah appeared first on Muhammadiyah Jateng.

   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *